Rabu, 21 Oktober 2015

Terima Kasih Gubernur Irwan

Abri Maijon
(Guru SMP di Pasaman Barat)

Tiga kali tulisan saya sebelumnya dimuat di media ini menyoal jalur transportasi di provinsi Sumatera Barat. Terkhusus di kabupaten Pasaman Barat jalan rayanya rusak berat. Kritik jalur penghubung Pasbar-Padang, Pasbar-Bukittinggi tentu tak mengada-ada. Sesuai fakta dan berisi argumen objektif. Kepedulian pemerintah seakan sangat rendah.  Kondisi jalur Simpang Ampek–Manggopoh luluh lantak, tak berbentuk. Setiap yang melewati akan merasakan duka nestapa.
Pasaman Barat terasa semakin tertinggal karena jalan nasional yang sedang rusak parah itu merupakan satu-satunya akses kendaraan yang menghubungkan jalur penting Padang dan Bukitinggi. Tak ada jalur lain sebagai alternatif.  Kenderaan berukuran jumbo hingga mini tumpah ruah di jalur itu.
Jalan raya Pasaman Barat memang sudah berumur tua. Mengutip Opini Musriadi Musanif di Harian Singgalang, 11 Desember 2014, jalur Pasaman Barat dibangun diawal 1980-an uangnya dari bantuan pemerintah Republik Federal Jerman. Jalur itu belum pernah diperbaiki secara serius hingga artikel Musriadi ini diterbikan, kecuali tambal sulam. Inilah jalan nasional Simpang Ampek-Manggopoh (Agam) yang panjangnya 72 km yang kondisinya memprihatinkan. Jarak tempuh antara Simpang Empat-Padang atau sebaliknya melalui kendaraan bermotor bisa mencapai 4 – 5 jam perjalanan, padahal waktu tempuh normal hanya sekitar 3 jam.
Kini, jalan raya itu sudah diperbaiki. Jalur yang tadinya dipenuhi lobang dan kerusakan parah disana sini, sudah tak terlihat. Kondisinya pulih. Pekerja terus bergiat merampungkan proyek dibeberapa ruas yang tersisa. Kendaraan melaju di tengah bentangan jalan yang lebih lapang dan hamparan lapisan aspal mulus berkualitas bagus.
Secara objektif pula saya ingin sampaikan ungkapan terima kasih dan apresiasi. Terkhusus terhadap Gubernur Irwan Prayitno beserta seluruh jajarannya yang sudah bertindak dan bekerja sangat baik. Perbaikan akses jalan Pasbar adalah hasil penantian panjang dan melelahkan. 35 tahun berlalu!
Saya memahami pembangunan jalan raya Simpang Ampek-Manggopoh oleh pemerintah bukan karena tulisan dan kritikan yang sebelumnya saya tulis. Pembangunan itu memang sudah direncanakan, bahkan barangkali sudah menjadi program pemerintah sebelum gubernur Irwan Prayitno. Hanya saja dari beberapa kutipan media yang dibaca, Irwan Prayitno berhasil merealisasikan proyek yang mangrak pada era pemerintahan sebelumnya. Ini tentu prestasi.
Walaupun tak ada proyek prestisius yang dibanguan di era pemerintahan Irwan-MK, namun pembangunan yang menyentuh kepentingan rakyat banyak berhasil diselesaikan. Terutama berkaitan erat dengan akses jalan raya sebagai fasilitas penting dan merupakan urat nadi kehidupan dan perkembangan ekonomi, sosial, maupun mobilitas penduduk dalam berbagai bidang. Jika boleh diurut, prioritas pembangunan sebelum yang lainnya adalah pembenahan infrastruktur jalan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Belum lama ini saya berkesempatan mengelilingi hampir seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat, sepanjang mata memandang sudah tidak terlihat  jalan raya yang rusak. Semuanya dalam kondisi layak dan siap pakai. Kita turut berbangga, karena pemerintah daerah telah memancang pondasi yang kuat pembangunan daerah melalui fasilitas transportasi.
Realisasi pembangunan sarana jalan raya di Sumatera Barat juga cukup membanggakan. Mengutip penjelasan Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Pemukiman Provinsi (Prasjaltarkim) Sumbar, Suprapto, pembangunan jalan raya Sumbar bahkan sudah melampaui target nasional yang ditetapkan sebelumnya. Target nasional jalan provinsi ditetapkan 65 persen, Sumbar sudah 87 persen. Begitu juga jalan nasional yang ditargetkan 90 persen, dan Sumbar sudah mencapai 98 persen.
Pembangunan infrastruktur dengan pertumbuhan ekonomi mempunyai hubungan yang erat dan saling ketergantungan satu sama lain. perbaikan dan peningkatan infrastruktur pada umumnya akan dapat meningkatkan mobilitas penduduk, terciptanya penurunan ongkos pengiriman barang, pengangkutan barang-barang dengan kecepatan yang lebih tinggi, dan perbaikan kualitas pelayanan dari pengangkutan tersebut.
Saat ini masalah infrastruktur menjadi agenda penting untuk dibenahi pemerintah daerah, karena ketersediaannya menjadi penentu utama keberlangsungan kegiatan pembangunan, diantaranya untuk mencapai target pembanguan ekonomi secara kualitatif maupun kuantitatif. Dalam jangka pendek pembangunan infrastruktur akan menciptakan lapangan kerja sektor konstruksi dalam jangka menengah dan panjang akan mendukung peningkatan efisiensi dan produktifitas sektor-sektor ekonomi terkait.
Jalan merupakan alat penghubung yang paling penting di gunakan di negara-negara maju. Di Denmark misalnya seluruh jalan yang di peruntukkan bagi kegunaan umum dan masyarakat selalu di buat dengan bagus, tahan lama, dan tidak terputus. Dengan demikian rakyatnya bisa dengan lancar bepergian ke mana saja tanpa hambatan.  
Semoga pemerintah terus merubah pola pikir dalam menghasilkan program ke depan dengan menjadikan jalan yang bagus serta berkualitas sebagai prioritas utama. Salah satu indikasi keberhasilan pencapaian kinerja pemerintah akan ditunjukkan oleh sejauh mana kemampuannya memberikan layanan-layanan publik secara berkualitas. Terima kasih Gubernur Irwan telah membawa daerah ini lebih baik.

Dimuat di Koran Harian Singgalang, Sabtu 29 Agustus 2015


Kabut Asap, Kenapa Tidak Bisa Dihentikan?


Abri Maijon
(Staf Pengajar SMP IT Darul Hikmah-Pasaman Barat)

                Sudah lama tidak terlihat indahnya langit biru, begitu juga sejuknya sinar mentari pagi. Seperti biasa kesejukan pagi disertai embun yang tampak memutih dari kejauahan, namun kali ini  bukanlah embun, tapi kabut asap yang kian hari bertambah pekat. Udara pagi tak lagi segar seperti sedia kala. Pagi hingga petang, matahari seakan enggan menampakkan wujud dan sinarnya yang perkasa, kini sepanjang waktu hanya terlihat bulatan merah dibalik lapisan partikel asap yang berterbangan dipermukaan langit dan bumi. Kita dibuat tak berdaya. Pahit dan getir, hari-hari berlalu berderap lesu. Dadapun  sesak dikepung kabut asap yang semakin hari tak kunjung hilang.
Kenyamanan kita seolah terkoyak, hilang dibawa dan dirampas para pengeruk keuntungan akibat keserakahan dan godaan nafsu. Mungkin inilah salah satu bukti peringatan Allah yang tertulis di dalam kitabnya; Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Tapi sepertinya manusia seakan tak  peduli dengan semua itu, demi mengejar keuntungan jutaan orang menderita dan menjadi korban, dan tidak sedikit pula dampak kerusakan yang terjadi.
Saya, orang awam ini terus bertanya dalam hati. Kenapa bencana kabut terus berlarut dan seperti tak teratasi. Ini benar benar sudah membuat resah. Rasanya ‘musibah’ kebakaran/pembakaran hutan kejadiannya sangat berbeda dengan bencana lain seperti gempa bumi, atau gunung meletus. Kebakaran/pembakaran objeknya jelas, titiknyapun dapat dilihat dan ditentukan. Bahkan kejadiannya hampir terulang setiap tahun. Berbeda dengan gempa bumi atau letusan gunung, yang tidak dapat dihindari dan relatif tidak tahu kapan akan terjadi.
Kini, ribuan pelajar terlantar sekolahnya diliburkan akibat  asap yang berbahaya.  Orang tua terus dilanda kecemasan terhadap kesehatan dan masa depan pertumbuhan anaknya. Ratusan orang telah dirawat di rumah sakit, beberapa diantara mereka ada yang meninggal karena tak mampu bertahan hidup di tengah udara yang tidak sehat.
Ketakutan terus berlanjut menyusul informasi tanda bahaya akibat udara yg tercemar yang dikeluarkan pihak berwenang dan ditulis media saban hari, ancaman ISPA juga ikut menghantui.
Kabut asap dari kebakaran/pembakaran hutan dan lahan kian pekat terus berlanjut. Daerah yang jauh dari titik kebakaran saja seperti Pasaman Barat, sudah sangat pekat kabut asapnya, apa lagi ditempat munculnya titik kebakaran.
Kualitas udara memburuk melebihi ambang batas mencapai 900 Psi dan bertanda bahaya. Masyarakatpun dibuat semakin resah dan panik, walau sekalipun telah ‘mengurung’ diri di dalam rumah. Sebagian warga di sejumlah daerah terutama di daerah pusat bencana terpaksa menggunakan alat bantu oksigen untuk bernafas. Oksigen pun kini menjadi bisnis laris manis dan langka terutama di daerah itu.
Kabarnya, kebakaran hutan tahun ini adalah musibah kebakaran terparah sepanjang sejarah. Bahkan api melalap hutan Sumatera dan Kalimantan menyentuh kedalaman tiga sampai lima meter di bawah permukaan tanah. Mengerikan!
Upaya penanggulangan kabut asap akibat kebekaran hutan belum/tidak melihatkan hasil yang memuaskan. Tak tampak upaya maksimal dari pemerintah agar penanganan kebakaran segera teratasi. Semua seolah menunggu keajaiban.
Negara mestinya mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki, seperti aparat TNI beserta kelengkapan yang dimiliki, pihak kepolisian, hingga sipil atau komponen terkait sebagai upaya penyelamatan.
Apakah karena ‘bencana’ kabut asap belum ditingkatkan satusnya sebagai bencana nasional sehingga pemerintah terkesan tidak bertindak cepat dan merasa tidak perlu memikirkan langkah tuntas sebagai upaya penyelamatan itu. Akankah menunggu puluhan ribu nyawa manusia melayang dan mati terbunuh akibat udara beracun baru kemudian ditetapkan seagai bencana nasional?
Jika ditelaah beberapa penjelasan yang dikeluarkan pejabat terkait dalam hal ini menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mereka seperti memahami solusi mengakhiri dampak kebakaran hutan. Seperti yang diungkapkan Menteri Siti Nur Baya, Pemadaman api dan asap akibat kebakaran dilakukan dengan menggunakan teknologi baru. Diantaranya penggunaan air yang dicampur dengan flame freeze berupa tetrahedron.
Teknologi tersebut menurutnya akan membuat api padam tanpa mengeluarkan asap. Sebab asap yang keluar dari pemadaman api akan langsung berubah menjadi wujud beku. Teknologi seperti ini, pernah digunakan dalam pemadaman kebakaran hutan di Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Tengah.
Jika itu adalah solusi kenapa pemerintah belum bergerak sesuai dengan teorinya. Yang dibutuhakn hari ini tentu program aksi agar rakyat dapat terbebas dari derita dan nestapa.
Namun disisi lain, pemerintah juga harus lebih transparan dan bersikap tegas terhadap perambah dan pembakar hutan yang kejadiannya terus terulang. Sekali lagi, bencana ini terjadi karena ulah para pengusaha atau perusahaan untuk mengeruk keuntungan maksimal. Sebagaimana temuan terbaru lebih dari 200 perusahaan penyebab kebakaran hutan. Sebagian diantaranya berasal dari perusahan besar dan ternama yang berasal dari dalam negeri maupun asing. Mereka harus diusut tuntas, diadili seadil-adilnya dan diberikan efek jera seperti diblack list untuk dicabut izin  operasional perusahan yang bersangkutan.
Sebab, sampai hari ini kita tidak melihat pelaku pembakar hutan diseret dan dikenakan rompi orange seperti perlakuan pasca penetapan tersangka korupsi di pelataran gedung KPK. Mediapun gagap gempita menyambut dan menulisnya di headline utama. Semoga!


Dimuat di Koran Harian Singgalang, Senin, 19 Oktober 2015

Abri Maijon

Sekilas membaca namanya, orang menebaknya sebagai seorang TNI. Namun dia bukanlah sosok yang berlatar belakang angkatan bersenjata. Beliau sedang menjalankan amanah yang diberikan  yayasan Darul Hikmah sebagai kepala SMP IT Darul Hikmah. Di samping tugasnya sebagai kepala sekolah, pria kelahiran Pasaman, 25 Mei 1982 merupakan guru Bidang Studi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah itu. Ayah dua anak ini punya pengalaman organisasi yang cukup cemerlang, beliau mengawali karirnya di forum studi Islam di fakultas Bahasa, Sastra dan Seni UNP Padang, kemudian bergabung  pengurus HMJ Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Lalu terpilih sebagai Gubernur BEM di fakultasnya, terkahir menduduki posisi sebagai Presiden BEM tingkat universitas. Kini, tiga tahun sudah tampuk pimpinan sebagai kepala sekolah dia pegang. Sekolah ini terus menggeliat dan bergerak maju mengukir berbagai prestasi di bawah sentuhan tim kerja yang solid. Ia mengemukakan lembaga apapun dan dimanapun seorang pimpinan tidak boleh ragu, ia harus berani mengambil keputusan, tegas dan mengerti akan arah dan tujuan, serta yang tak kalah pentingnya merasakan dengan hati. Bersama rekan kerja yang lain beliau sangat menekankan terhadap disiplin kerja, terutama urusan ibadah. Semua aktifitas wajib dihentikan dan harus berlarian menuju masjid saat azan dikumandangkan. Anak pertama dari 7 bersaudara ini menyukai bidang jurnalistik, berbagai judul tulisan dan opininya terbit di media massa dan elektronik, di samping itu ia juga menyukai dan mahir bidang disain komunikasi visual berbagai bentuk hasil olahan komputer.