Abri
Maijon
(Staf Pengajar SMP IT Darul
Hikmah-Pasaman Barat)
Sudah lama tidak terlihat
indahnya langit biru, begitu juga sejuknya sinar mentari pagi. Seperti biasa
kesejukan pagi disertai embun yang tampak memutih dari kejauahan, namun kali
ini bukanlah embun, tapi kabut asap yang
kian hari bertambah pekat. Udara pagi tak lagi segar seperti sedia kala. Pagi
hingga petang, matahari seakan enggan menampakkan wujud dan sinarnya yang
perkasa, kini sepanjang waktu hanya terlihat bulatan merah dibalik lapisan partikel
asap yang berterbangan dipermukaan langit dan bumi. Kita dibuat tak berdaya.
Pahit dan getir, hari-hari berlalu berderap lesu. Dadapun sesak dikepung kabut asap yang semakin hari tak
kunjung hilang.
Kenyamanan
kita seolah terkoyak, hilang dibawa dan dirampas para pengeruk keuntungan akibat
keserakahan dan godaan nafsu. Mungkin inilah salah satu bukti peringatan Allah yang
tertulis di dalam kitabnya; Telah nampak kerusakan di darat dan
di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Tapi sepertinya manusia
seakan tak peduli dengan semua itu, demi
mengejar keuntungan jutaan orang menderita dan menjadi korban, dan tidak
sedikit pula dampak kerusakan yang terjadi.
Saya, orang awam ini terus bertanya dalam
hati. Kenapa bencana kabut terus berlarut dan seperti tak teratasi. Ini benar benar
sudah membuat resah. Rasanya ‘musibah’ kebakaran/pembakaran hutan kejadiannya
sangat berbeda dengan bencana lain seperti gempa bumi, atau gunung meletus.
Kebakaran/pembakaran objeknya jelas, titiknyapun dapat dilihat dan ditentukan.
Bahkan kejadiannya hampir terulang setiap tahun. Berbeda dengan gempa bumi atau
letusan gunung, yang tidak dapat dihindari dan relatif tidak tahu kapan akan
terjadi.
Kini, ribuan pelajar terlantar sekolahnya
diliburkan akibat asap yang berbahaya. Orang tua terus dilanda kecemasan terhadap
kesehatan dan masa depan pertumbuhan anaknya. Ratusan orang telah dirawat di
rumah sakit, beberapa diantara mereka ada yang meninggal karena tak mampu
bertahan hidup di tengah udara yang tidak sehat.
Ketakutan terus berlanjut menyusul
informasi tanda bahaya akibat udara yg tercemar yang dikeluarkan pihak berwenang
dan ditulis media saban hari, ancaman ISPA juga ikut menghantui.
Kabut
asap dari kebakaran/pembakaran hutan dan lahan kian pekat terus berlanjut. Daerah
yang jauh dari titik kebakaran saja seperti Pasaman Barat, sudah sangat pekat
kabut asapnya, apa lagi ditempat munculnya titik kebakaran.
Kualitas
udara memburuk melebihi ambang batas mencapai 900 Psi dan bertanda bahaya. Masyarakatpun
dibuat semakin resah dan panik, walau sekalipun telah ‘mengurung’ diri di dalam
rumah. Sebagian warga di sejumlah daerah terutama di daerah pusat bencana terpaksa
menggunakan alat bantu oksigen untuk bernafas. Oksigen pun kini menjadi bisnis laris
manis dan langka terutama di daerah itu.
Kabarnya,
kebakaran hutan tahun ini adalah musibah kebakaran terparah sepanjang sejarah.
Bahkan api melalap hutan Sumatera dan Kalimantan menyentuh kedalaman tiga
sampai lima meter di bawah permukaan tanah. Mengerikan!
Upaya
penanggulangan kabut asap akibat kebekaran hutan belum/tidak melihatkan hasil
yang memuaskan. Tak tampak upaya maksimal dari pemerintah agar penanganan kebakaran
segera teratasi. Semua seolah menunggu keajaiban.
Negara
mestinya mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki, seperti aparat TNI beserta
kelengkapan yang dimiliki, pihak kepolisian, hingga sipil atau komponen terkait
sebagai upaya penyelamatan.
Apakah
karena ‘bencana’ kabut asap belum ditingkatkan satusnya sebagai bencana
nasional sehingga pemerintah terkesan tidak bertindak cepat dan merasa tidak
perlu memikirkan langkah tuntas sebagai upaya penyelamatan itu. Akankah
menunggu puluhan ribu nyawa manusia melayang dan mati terbunuh akibat udara
beracun baru kemudian ditetapkan seagai bencana nasional?
Jika
ditelaah beberapa penjelasan yang dikeluarkan pejabat terkait dalam hal ini menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mereka seperti memahami solusi mengakhiri
dampak kebakaran hutan. Seperti yang diungkapkan Menteri Siti Nur Baya,
Pemadaman api dan asap akibat kebakaran dilakukan dengan menggunakan teknologi
baru. Diantaranya penggunaan air yang dicampur dengan flame freeze berupa tetrahedron.
Teknologi
tersebut menurutnya akan membuat api padam tanpa mengeluarkan asap. Sebab asap
yang keluar dari pemadaman api akan langsung berubah menjadi wujud beku.
Teknologi seperti ini, pernah digunakan dalam pemadaman kebakaran hutan di
Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Tengah.
Jika
itu adalah solusi kenapa pemerintah belum bergerak sesuai dengan teorinya. Yang
dibutuhakn hari ini tentu program aksi agar rakyat dapat terbebas dari derita
dan nestapa.
Namun disisi lain, pemerintah juga harus
lebih transparan dan bersikap tegas terhadap perambah dan pembakar hutan yang
kejadiannya terus terulang. Sekali lagi, bencana ini terjadi karena ulah para
pengusaha atau perusahaan untuk mengeruk keuntungan maksimal. Sebagaimana
temuan terbaru lebih dari 200 perusahaan penyebab kebakaran hutan. Sebagian
diantaranya berasal dari perusahan besar dan ternama yang berasal dari dalam
negeri maupun asing. Mereka harus diusut tuntas, diadili seadil-adilnya dan
diberikan efek jera seperti diblack list untuk dicabut izin operasional perusahan yang bersangkutan.
Sebab, sampai hari ini kita tidak melihat
pelaku pembakar hutan diseret dan dikenakan rompi orange seperti perlakuan pasca
penetapan tersangka korupsi di pelataran gedung KPK. Mediapun gagap gempita menyambut
dan menulisnya di headline utama. Semoga!
Dimuat
di Koran Harian Singgalang, Senin, 19 Oktober 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar